China, Peluang atau Ancaman

1. Perjalanan Panjang.

 

China pada masa lalu merupakan salah satu negeri yang mempunyai sejarah peradaban dan budaya paling maju dan tua di dunia. Hingga saat ini telah menapak perjalanan sejarah yang panjang dengan rentang waktu mencapai hampir 4000 tahun.

Sejarah China secara garis besar dibagi ke dalam 3 (tiga) periode yaitu:

• Periode pertama

Periode ini dimulai oleh Dinasti Xia, kemudian Dinasti Shang, dan Dinasti Zhou – yang terbagi menjadi Zhou Barat dan Zhou Timur.

• Periode kedua

• Periode ketiga

China modern yang dimulai sejak 1912 hingga sekarang., masa Kekaisaran China yang dimulai dari 221 sebelum Masehi hingga 1912. Masa Kekaisaran ini dimulai oleh Dinasti Qin, dan kemudian diteruskan oleh beberapa Dinasti serta diakhiri oleh Dinasti Qing. , China kuno yang dimulai dari 1500 sebelum Masehi hingga 221 sebelum Masehi.

Dalam perjalanan masa yang panjang itu, negara tersebut mengalami berbagai peristiwa dan sejarah penting; pernah mengalami masa kekuasaan kerajaan-kerajaan yang dipenuhi sejarah peperangan, kemudian berhasil dipersatukan tetapi kemudian terpecah kembali. China yang terpecah-pecah kemudian berhasil dipersatukan kembali.

China pernah mengalami dikuasai bangsa lain yaitu bangsa Mongol dari 1279 hingga 1368 di bawah kekuasaan Dinasti Yuan, dan bangsa Manchuria dari 1644 hingga 1911 di bawah kekuasaan Dinasti terakhir – Qing.

China modernpun pernah mengalami sejarah penjajahan dan penghinaan bangsa asing hingga China yang dipenuhi pergulatan internal. Dari perjalanan sejarah panjang itu baru pada penghujung abad ke-20 China mulai memperlihatkan masa yang penuh harapan dengan kemajuan ekonomi yang menjanjikan. Dalam bidang militer, negara ini mengalami sejarah yang panjang, sepanjang perjalanan sejarah China.

Dalam dua periode awal sejarah China, struktur kekuatan militer China dibangun selain untuk menghadapi ancaman bangsa-bangsa nomaden dari Mongolia, Manchuria dan dari Asia Tengah, juga dipengaruhi oleh paham legalisme dan pengaruh ajaran Konghuchu.

Para legalis mulai Shang Yang hingga Li Si, keduanya adalah Perdana Menteri masa pemerintahan Qin, menganut pemikiran bahwa secara sosial masyarakat harus dikelompok-kelompokan dan secara birokratik harus diatur. Pemikiran ini merombak sama sekali konsep militer saat itu yang menganut struktur dengan sistem otokrasi. Demikian juga dengan nilai-nilai ajaran Konghuchu yang makin mempengaruhi kehidupan masyarakat China sejak Dinasti Han dan dinasti-dinasti berikutnya.

Salah satu ajaran Konghuchu mengajarkan bahwa Raja-raja yang mendapat Amanah dari Surga adalah mereka yang berbuat kebajikan dan memerintah dengan memberikan contoh moral yang baik serta nilai-nilai kerohanian. Raja-Raja yang suka berperang akan mendapat tentangan dan akan dikutuk oleh sejarah, sedangkan Raja-Raja yang mencintai dan berusaha menciptakan perdamaian serta meninggalkan nilai-nilai kekerasan dengan mengetengahkan nilai-nilai yang beradab akan mendapat pujian dan penghormatan.

Sejarah China mencatat Kaisar Qin Shi Huang (259 – 210 S.M.) dan Yongle atau Kaisar Zhu Di, (dalam sejarah Melayu dikenal dengan Yung Lo dari Dinasti Ming, 1360 – 1424), adalah di antara raja-raja yang paling suka berperang.

Kaisar Qin Shi Huang adalah Kaisar yang berhasil menyatukan China. Dalam masa pemerintahannya, Qin lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada masalah-masalah kenegaraan. Falsafah politiknya banyak dipengaruhi oleh filsafat Han Fei Tzu – yang mendefinisikan manusia secara alamiah sebagai mahluk jahat – karena itu perlu ada sistem hukum dan hukuman keras. Qin Shi Huang juga memberlakukan sistem perpajakan yang tinggi. Karena itu pada masa pemerintahannya, sering terjadi penindasan manusia, sehingga rakyat hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan.

 

 Zhu Di atau Yongle merupakan Kaisar ketiga dari Dinasti Ming yang dibangun ayahnya, Zhu Yuanzhang, yang memerintah Kekaisaran Taizu dengan Nanjing sebagai pusat pemerintahan. Zhu Di juga sering dijuluki Second Founding – Dinasti Ming. Sepanjang karir politiknya, dikenal sebagai ahli strategi militer dan pemimpin militer yang cemerlang. Zhu Di adalah seorang pemimpin yang energik, bersemangat, berani mengambil risiko, dan memiliki karakter kepemimpinan yang kuat. Zhu Di selalu bertindak dan bersikap hati-hati serta penuh kewaspadaan, sehingga sangat disegani dan dihormati oleh pasukannya – yang mengakuinya sebagai pemimpin militer yang efektif dan telah banyak mengalahkan lawan-lawannya.

Dalam bidang militer, Zhu Di banyak dipengaruhi oleh pemikiran Sun Tzu penulis The Art of War, terutama taktik dan tehnik pendadakan (surprise), pengelabuan (deception), dan bahkan taktik-taktik yang membingungkan dan dianggap tidak lazim, seperti mengerahkan tentara Mongol ketika bertempur melawan musuh bebuyutannya, Jianwen.

Padahal Zhu Di dengan dibantu mertuanya Jenderal Xu Da yang berhasil mengamankan perbatasan di utara dalam menghadapi dan mengalahkan tentara Mongol, ketika tentara Mongol menyerbu dari utara. Zhu Di berhasil mengakhiri pemerintahan Jianwen dan dengan kejam membersihkan pendukung Jianwen pada akhir 1402. Zhu Di menganggap tindakan ini diperlukan untuk dapat menegakkan pemerintahan yang efektif dan menciptakan perdamaian di China.

Pada masa pemerintahannya, Zhu Di secara resmi memindahkan ibukota pemerintahannya dari Nanjing ke Beijing, dan membangun istana yang sekarang dikenal dengan nama Forbidden City.

Meskipun dalam upaya menegakkan kekuasaan, Zhu Di banyak melakukan peperangan dan kadang-kadang bertindak bengis, dalam membina hubungan dengan negara-negara lain, Zhu Di melakukan cara yang berbeda.

Salah satu episode penting dalam sejarah hubungan luar negeri pada masa pemerintahannya, terjadi tatkala Kaisar Zhu Di memerintahkan mantan seorang kasim untuk memimpin pelayaran muhibah ke negara-negara Asia Tenggara, di antaranya pelayaran muhibah ke Nusantara atau Indonesia yang dilakukan hingga tujuh kali, Samudera Hindia, Teluk Persia, Kepulauan Maladewa, bahkan sampai ke pantai timur Afrika seperti Somalia dan Kenya.

Kasim yang kemudian dikenal sebagai pelaut legendaris dan tokoh multidimensional itu bernama Laksamana Zheng He. Di Indonesia lebih dikenal dengan Cheng Ho yang telah menggoreskan urat sejarah kebesaran China pada abad ke-15. Peninggalannya banyak dilihat di Semarang, Jakarta dan tempat-tempat lainnya. Bahkan diriwayatkan, Cheng Ho juga pernah mengunjungi Kerajaan Sunda atau Sun-La.

 

 Di Semenanjung Malaya atau sekarang Malaysia, Zheng He dikenal dengan “Laksamana Saiyid Cheng Ho”, yang dalam pelayaran muhibahnya sempat singgah di Negeri Kelantan dan membawa surat serta hadiah kain sutera untuk dipersembahkan kepada Maharaja K’ Umar atau Sultan Baki Syah.

 Gavin Menzies seorang mantan anggota Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan pernah menjadi Komandan kapal selam nuklir, bahkan mencatat dalam penelitiannya yang kemudian dibukukan dengan judul “1421- The Year China Discover The World”, bahwa pelayaran Laksamana Zheng He telah mencapai benua Amerika. Muhibah pelayaran Laksamana Cheng Ho merupakan sejarah pelayaran terpanjang lebih dari 35.000 mil, dengan Armada kapal terbesar yang pernah dilakukan di dunia jauh sebelum Columbus. Dalam setiap pelayaran, Cheng Ho memimpin rata-rata 60 (enam puluh) kapal besar dan sejumlah kapal kecil dengan jumlah anak buah kapal mencapai 27.000 orang. Cheng Ho yang beragama Islam ini tidak hanya dikenal sebagai seorang pelaut muslim taat dan sangat toleran, yang dalam setiap kesempatan ikut melakukan syiar agama Islam, tetapi juga dikenal sebagai saudagar dan diplomat ulung yang mengemban misi perdagangan dan persahabatan.

Politik luar negeri Kaisar Zhu Di tidak terlepas dari cara pandang China yang unik tentang hubungan luar negeri. Ini disebabkan oleh perkembangan budaya China yang terisolasi dari peradaban dan budaya lain di luar China. Orang-orang China menyebut negerinya sebagai “Kerajaan Tengah” atau dalam bahasa Mandarin disebut Zhungguo, meskipun pandangan tentang Kerajaan Tengah dianut juga oleh raja-raja Jawa seperti terlihat dari istilah Paku Bumi atau Paku Buwono yang artinya pusat dunia.

 

 Mulai dari jaman Dinasti Qin dan Han pada abad ke-3 Sebelum Masehi hingga akhir Dinasti Qing pada abad ke-20 Masehi, China menganggap dirinya sebagai pusat dunia, negeri yang paling berbudaya dan pusat peradaban, yang memiliki arti penting bagi seluruh kehidupan manusia. Orang China (hua) adalah bangsa yang paling berbudaya, sedangkan bangsa lain di luar China disebut bangsa yang tidak berbudaya atau barbar (yiti). Sang Kaisar dipandang sebagai Putra Surgawi (Tianzu)- yang mewakili seluruh umat manusia sehingga berhak memerintah seluruh umat manusia.

 

Berdasarkan pemahaman ini dan kemudian dipengaruhi oleh ajaran Konghuchu, misi dari para Kaisar China adalah menarik semua yang ada di bumi ke dalam keharmonisan ajaran Konghuchu. Dari catatan sejarah, Cheng Ho menuliskan bahwa dia telah diperintah oleh Zhu Di untuk berlayar ke “negeri-negeri di luar cakrawala”, menuju ujung dunia. Misinya adalah untuk menunjukkan kebesaran dan kejayaan China dan mengumpulkan upeti dari “ bangsa barbar di seberang lautan”.

 

 

 

Ingin mengetahui lebih jauh, miliki buku ini….”CHINA, PELUANG ATAU ANCAMAN” yang ditulis oleh Aa Kustia Sukarnaprawira, SE.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s